Integrasi kecerdasan buatan ke dalam industri persewaan mobil telah berubah dari konsep futuristik menjadi medan pertempuran hukum dan konsumen di garis depan. Inti dari perselisihan ini adalah Hertz, yang telah menerapkan sistem pemindaian berteknologi tinggi yang dirancang untuk menghilangkan kesalahan manusia—namun para kritikus berpendapat bahwa hal ini mungkin menciptakan cara baru untuk mengenakan biaya yang tidak adil kepada pelanggan.
Teknologi: Cara Kerja UVeye
Tahun lalu, Hertz meluncurkan alat yang dikembangkan oleh UVeye, sebuah sistem pemindaian berbasis AI. Prosesnya mudah:
1. Pemindaian Keluar: Kendaraan dipindai saat meninggalkan pusat persewaan.
2. Pemindaian Masuk: Kendaraan dipindai lagi setelah dikembalikan.
3. Perbandingan AI: Perangkat lunak ini membandingkan dua kumpulan gambar untuk mengidentifikasi goresan, penyok, atau masalah struktural baru.
Hertz berpendapat bahwa sistem ini memberikan tingkat presisi yang tidak dapat ditandingi oleh seorang karyawan yang berjalan secara manual dan terburu-buru. Menurut perusahaan, teknologi tersebut sebenarnya mengurangi perselisihan dengan memberikan dokumentasi yang jelas dan obyektif. Hertz melaporkan bahwa lebih dari 97% pemindaian tidak dikenakan biaya, yang menunjukkan bahwa sebagian besar pelanggan mengembalikan kendaraan dalam kondisi yang dapat diterima.
Kontroversi: Kerusakan “Tak Terlihat” dan Hak Konsumen
Terlepas dari klaim perusahaan, sistem ini menghadapi penolakan yang signifikan. Ketegangan utama terletak pada kesenjangan antara apa yang dapat dilihat manusia dan apa yang dideteksi oleh algoritma.
Jack Schlossberg, seorang kandidat kongres dan cucu mantan Presiden John F. Kennedy, telah ikut serta. Dalam video kampanyenya baru-baru ini, Schlossberg menyampaikan kekhawatirannya bahwa Hertz menggunakan AI untuk menagih pelanggan atas “kerusakan mikroskopis yang tidak terlihat oleh mata manusia.”
Argumennya berpusat pada dua poin utama:
* Praktik Tidak Adil: Apakah memungut biaya atas ketidaksempurnaan mikroskopis merupakan praktik bisnis yang tidak adil.
* Proses Penyelesaian: Apakah konsumen memiliki cara yang bermakna dan dapat diakses untuk menyengketakan tagihan otomatis.
Schlossberg telah meminta Komisi Perdagangan Federal (FTC) untuk menyelidikinya. Namun, FTC tetap tidak berkomitmen. Joseph Simonson, Direktur Urusan Masyarakat FTC, menyatakan bahwa badan tersebut tidak menerima arahan dari kandidat politik dan menolak berkomentar apakah ada penyelidikan yang sedang dilakukan.
Konflik Inti: Data vs. Anekdot
Meskipun retorika politiknya tinggi, bukti sebenarnya masih terbagi menjadi dua perspektif yang berbeda:
Kasus untuk Sistem
- Objektivitas: Para pendukung berpendapat bahwa AI menghilangkan subjektivitas dan potensi kemalasan pengawas manusia.
- Efisiensi: Pemindaian otomatis lebih cepat dan konsisten dibandingkan pemeriksaan manual.
- Tingkat Keberhasilan Tinggi: Hertz menunjuk pada tingkat “tanpa biaya” sebesar 97% sebagai bukti bahwa sistem ini tidak bersifat predator.
Kasus Melawan Sistem
- Kesulitan Sengketa: Banyak penyewa melaporkan bahwa sangat sulit menghubungi perwakilan manusia untuk menentang tagihan yang disebabkan oleh AI.
- Kurangnya Transparansi: Saat ini tidak ada data publik mengenai “positif palsu”—contoh ketika AI salah mengidentifikasi kerusakan yang sudah ada atau tidak ada.
- Faktor “Tak Terlihat”: Jika AI mendeteksi kerusakan yang tidak dapat dilihat oleh orang normal, hal ini akan menciptakan keterputusan mendasar antara pengalaman konsumen dan penagihan perusahaan.
Mengapa Ini Penting
Perselisihan ini merupakan mikrokosmos dari tren global yang lebih besar: ketegangan antara efisiensi otomatis dan perlindungan konsumen. Seiring dengan semakin banyaknya perusahaan yang menggantikan pengawasan manusia dengan AI, sifat “kotak hitam” pada algoritme menciptakan ketidakseimbangan kekuatan. Jika sebuah mesin memutuskan bahwa Anda berhutang, beban pembuktian sering kali beralih ke konsumen, yang mungkin tidak memiliki alat teknis untuk membuktikan bahwa mesin tersebut salah.
Pertanyaan utamanya bukanlah apakah teknologi tersebut berfungsi, namun apakah hak asasi manusia untuk mempermasalahkan keputusan otomatis tetap dipertahankan dalam perekonomian yang semakin algoritmik.
Kesimpulan
Meskipun Hertz mengklaim AI-nya memberikan akurasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, protes dari konsumen dan tokoh politik menyoroti semakin besarnya ketidakpercayaan terhadap penagihan otomatis. Resolusi akhir kemungkinan besar akan bergantung pada apakah badan pengawas seperti FTC memutuskan bahwa kerusakan “tak terlihat” yang terdeteksi oleh AI memerlukan pengawasan yang lebih ketat.
